HOME

Pohon apel dan  sahatnya
 
Suatu ketika bersahatlah pohon apel dengan anak kecil, setiap saat mereka selalu bermain bersama, lama-kelamaan anak ini bosen dan mau punya permainan yang baru, lalu ia meminta uang untuk membeli mainan pada pohon. Pohon menjawab “aku tidak punya apa-apa untuk membelikan kamu mainan, tapi kamu boleh ambil buah aku untuk kamu jual dan belilah mainan yang kamu inginkan. Lalu anak kecil tadi memanjat dan mengambil buah apel tesebu. Seteh selesai anak kecil itu pergi dengan membawa buah apel yang ia petik tadi.
Pohon ini kesepian dan ia bertanya kemana sahabatku, kok dia gak pernah kesini lagi. Waktu terus berlalu dan sahabatnyapun datang dengan wajah yang murung, si pohon menyapa ada apa sahabatku? Aku bosen dengan mainan mainanku dan sekarang aku sudah dewasa, akum mau punya rumah dan menikah tapi aku gak ada uang maukah kamu membantu aku? Sahabatku aku tidak punya uang juga tapi kalau kamu mau abillah rantingku untuk kamu jadikan rumah dan biaya kamu untuk menikah. Baik sahabatku, setelah menganbil ranting lalu ia pegi untuk membuat rumah.
Pohon inipun sedih lagi kenapa sahabatku tidak pernah datang lagi untuk menemuiku lagi apa ia sudah lupa padaku. Waktu terus berlalu tapi sang pohon terus menunggu sahabatnya untuk bersama-sama dan bermain seperti yang dulu. Ketika sahabatnya datang lalu ia dengan tersenyum dan mengatakan ‘mari kesi sahabatku ayo kita bermain’ “tidak aku sudah besar aku tidak mau bermain lagi” sahabatku aku bingung aku sudah punya rumah dan istri tapi aku bosen aku mau pergi berlaya tapi aku tidak punya perahu, bagaimana sahabatku?” kesnilah sahabatku ambillah batangku untuk kamu jadikan perahu dan belayarlah kemana kamu mau. Tidak lama kemidian batang pohon itupun ditebang umtuk dijadikan perahu dan ia pun pergi.
Pohon ini tetap menunggu sahabatnya untuk balik dan menemaninya. Setelah waktu yang sangat lama sahabatnyapun datang, namun pohon sedih karena ia tidak bisa memberikan apa-apa lagi. Sahabatnya menjawab aku tidak butuh apa-apa lagi aku sudah tua, aku Cuma mencari tempat istiraha. Sahabatku akar-akar ku inilah tampat yang nyaman untuk istirahat dan sahabat ini tidur dengan lelapnya.
Amanat dalam cerita bahwa, tampa kita sadari sebagai seorang anak kepada orang tua hanya bisa meminta-minta dan datang saat kita membutuhkannya saja.


Kambing Yang Menyelamatkan Pendeta




Dahulu kala, hiduplah seorang pendeta yang sangat terkenal, dari suatu ajaran agama yang sangat kuno. Ia memutuskan bahwa hari ini adalah hari yang tepat untuk mengadakan persembahan ritual dengan menyembelih kambing. Dalam kebodohan, ia berpikir bahwa ia adalah persembahan yang diinginkan oleh dewanya.

Maka ia mencari kambing yang pantas untuk dipersembahkan. Ia meminta pembantunya untuk membawa kambing tersebut ke sungai suci dan memandikannya serta kemudian menghiasainya dengan kalungan bunga. Kemudian para pembantu itu sendiri diminta untuk membersihkan diri sebagai bagian dari latihan penyucian.

Di tepi sungai, kambing itu tiba-tiba menyadaru bahwa hari itu pasti akan terbunuh, ia juga menyadari tentang kelahiran-kelahiran dan kematian-kematiannya yang lampau dan juga kelahiran-kelahiran kembalinya yang lampau. Ia menyadari bahwa akibat dan perbuatan yang tidak benar di masa yang lampau akan segera selesai. Jadi ia mengeluarkan bunyi tawa yang nyaring, seperti suara simbal.

Ditengah tawa tersebut, ia menyadari suatu kebenaran yang lain - bahwa pendeta itu, dengan melakukan persembahan korban, ia akan mengalami penderitaan yang sama mengerikannya, akibat dari kebodohannya. Jadi ia mulai menangis sekeras tawanya!

Para pembantu yang saat itu sedang mandi di sungai suci pertama-tama mendengar tawa kemudian tangis. Mereka heran. Maka mereka bertanya kepada kambing itu, "Mengapa kamu tertawa dn kemudian menangis dengan sama kerasnya? Apakah alasannya?" Ia menjawab, "Aku akan memberitahukan alasannya. Tetapi harus di depan tuan kalian, sang pendeta".

Karena mereka sangat penasaran, mereka dengan segera membawa kambing persembahan itu kehadapan mereka. Mereka menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Pendeta itu sendiri menjadi sangat ingin tahu. Ia dengan hormat bertanya kepada kambing tersebut, "Tuan, mengapa anda tertawa begitu keras, dan menangis sama kerasnya?"

Kambing itu, mengingat kehidupannya yang lalu, berkata "Dahulu kala, aku dulu adalah seorang pendeta juga, seperti anda yang terdidik dengan baik mengenai ucapan keagamaan. Saat itu aku juga mengira bahwa menpersembahkan seekor kambing bagi dewa juga diperlukan dan bermanfaat bagi orang lain, dan juga diriku sendiri di kelahiran yang akan datang. Akan tetapi sesungguhnya dari tindakanku itu adalah di dalam 499 kehidupanku berikutnya aku harus dipancung!"

"Ketika dipersiapkan untuk dipersembahkan, aku menyadari bahwa hari ini aku pasti akan kehilangan kepalaku untuk yang ke 500 kalinya. Dan akhirnya aku akan terbebas dari semua akibat perbuatanku yang tidak benar dalam kehidupan masa laluku. Sukacita akan hal inilah yang membuatku tertawa tidak terkontrol".

"Kemudian tiba-tiba aku menyadari bahwa kamu, pendeta, akan berbuat kesalahan yang sama denganku, dan akan terkutuk dengan akibat yang sama, terpancung kepalaku dalam 500 kali kehidupan yang akan datang! Jadi, karena kasihan dan simpati, tawaku berubah menjadi tangis".

Pendeta itu berkata, "Jangan takut, kambingku yang baik. Aku akan menyediakan perlindungan yan terbaik bagimu dan secara pribadi menjamin bahwa tidak akan ada celaka yang terjadi padamu". Tetapi kambing itu berkata. "Oh, pendeta, perlindungan anda sangat lemah dibandingkan dengan kekuatan karma/perbuatanku di masa lampau".

Jadi pendeta itu membatalkan persembahan yang akan dilakukannya, dan mulai mempunyai keraguan mengenai pembunuhan binatang yang tidak berdaya. Ia membebaskan kambing itu dan bersama para pembantunya mulai memgikuti kambing itu untuk memberikan perlindungan.

Kambing itu berjalan pergi, hingga tiba pada tempat yang berbatu karang. Ia melihat beberapa pucuk daun muda di suatu cabang dan menjulurkan lehernya untuk mencapai dedaunan tersebut. Tiba-tiba saja ada kilat. Satu sambaran kilat menyambar batu yang tajam, membelahnya dan runtuhan bebatuan yang tama itu tepat memenggal leher kambing itu! Seketika itu juga kambing itu mati, dan kiat itu menghilang.

Mendengar kejadian yang sangat aneh itu, beratus-ratus orang datang menuju ke tempat itu. Tidak ada yang dapat mengerti mengapa semua itu dapat terjadi.

Disekitar itu hiduplah seorang peri pohon. Ia telah melihat semua yang terjadi. Ia menampakkan diri, dengan lembut melayang di udara. Ia mulai mengajarkan kepada orang-orang yang ingin tahu itu dengan berkata, "Lihatlah apa yang terjadi pada kambing yang malang ini. Inilah akibat dari membunuh hewan! Semua makhluk dilahirkan, dan menderita pada waktu sakit, usia tua, dan kematian. Tetapi semuannya ingin hidup, bukan mati. Dengan tidak menyadari bahwa semua mempunyai persamaan seperti itu, beberapa diantaranya membunuh makhluk hidup lainnya. Ini menyebabkan penderitaan bagi si pembunuh, baik pada kehidupan sekarang maupun kehidupan-kehidupaa yang akan datang.

"Dengan tidak mengetahui bahwa semua perbuatan akan membawa akibat bagi si pelaku, beberapa dari mereka terus saja membunuh dan menyebabkan lebih banyak lagi penderitaan pada diri mereka sendiri di masa datang. Setiap kali mereka membunuh sebagia dari mereka juga harus mati dalam kehidupan sat ini. Dan penderitaan yang ada berlanjut bahkan sampai dilahirkan di alam neraka!"

Mereka yang mendengarkan peri itu berbicara merasa sangat beruntung. Mereka berhenti membunuh karena kebodohan/ketidaktahuan mereka dan hidup dengan lebih baik, baik dalam kehidupan saat ini maupun dalam kelahiran-kelahiran berikutnya.

PESAN YANG ADA:
Bahkan agama dapat menjadi sumber kebodohan.

(Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma X, atas izin Ir. Lindawati T)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar